Blog Ferry Ferrari

Kita hidup bukan untuk mencintai orang yang sempurna. Tapi untuk belajar mencintai dengan sempurna orang yang tidak sempurna

Doa Douglas Mc Arthur

Posted by ferryryuki pada Januari 29, 2014

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

 

NB: Seandainya ada 1000 ayah di Indonesia seperti ini…………..

Iklan

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Penataan Kota Yang Baik

Posted by ferryryuki pada Oktober 22, 2012

Saat ini kemacetan di sebagian besar kota di Pulau Jawa sudah sangat parah. Kira-kira, apa sih akar masalahnya? Jumlah mobil dan motor terlalu banyak? Tidak!!! Jepang, Thailand, China juga banyak kendaraan, tapi cuma beberapa daerah saja yang macet. Banyaknya akses jalanan? Ini bisa jadi benar.

Di bawah ini mungkin bakalan bisa jadi sekedar transfer ide untuk membuka wacana baru aja tentang solusi memecah kemacetan. Kita bisa lihat tata ruang kota di beberapa kota yang saya ambil dari Google Earth. Tapi, tidak semua kota besar dunia, yaaaa… Kota besar yang dimaksud adalah kota besar yang sudah akomodasi aktivitas transportasi modern. Bukan kota lama seperti di Spanoyl, Italia, atau beberapa kota “kuno”. Sebagian aja dehh… Moga-moga aja bisa ditiru di kota Anda. Kalo saya, minimal untuk kota Bogor aja dehhh…

Ini Salah satu tata ruang di Michigan, USA.

Dalam gambar tersebut, penataannya sudah sangat rapi sekali. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak akan terjadi penumpukan kendaraan di salah satu titik jalanan.

Masih Michigan. Zooming.Penataannya, tidak melupakan unsur “Ruang Terbuka Hijau”. Bahkan jika kita lihat lebih dekat lagi, dengan fasilitas Street View, akan terlihat, bahwa jalanan komplekx perumahan saja, sama lebarnya dengan jalanan utama.

Ini salah satu tampilannya

Karena sangat lebarnya, dan terkesan luas, tidak ada yang namanya terjadi kemacetan di jam kerja.

Sekarang kita terbang ke Washington DC, USA.

Tata Ruang Ibukota Negara

Semua bangunan memiliki “tinggi badan” yang sama. Tidak ada gedung pencakar langit di Ibukota. Karena sudah dipikirkan untuk pusat pemerintahan, dan juga antisipasi aksi terorisme seperti 11 September 2001. Dan nyatanya, terbilang berhasil.

Kita lihat salah satu sisi kota Washington DC.

Pusat Kesibukan Ibukota

Ini Ibukota Negara Adikuasa. Tapi, tidak ada kemacetan di salah satu jalanan utamanya. Bahkan terbilang KOSONG. Koq bisa? Jakarta bisa seperti ini ga yaaa?

Tokyo

Tokyo, sama padatnya dengan Jakarta. Tapi, bisa diatasi dengan banyaknya akses transportasi bagi warganya. Dari atas memang terkesan penuh. Kita lihat salah satu sudut kotanya.

Sempit, tapi tidak mengganggu

Jepang, berbeda dengan Amerika. Jepang mengambil sisi praktis dari tiap permasalahan. Walaupun sempit, tidak ada polisi tidur (baik yang landai maupun yang lancip), portal, jalan berlubang, drum di tengah jalan. 🙂

Paris, Perancis

Tahukah Anda, nama kota ini? Betuulll…. Paris, Perancisss….. Padat, memang. Tapi tertata. Seperti potongan agar-agar cantik. hehehehe.

Tidak seperti Bandung. Walaupun kota mode dunia, tidaklah terkesan “padat”. Bahkan tidak terjadi kemacetan di salah satu kios mode di sana.

Kita terbang lagi yoooo… ke kota pantai, namanya San Francisco…

San Francisco USA

San Francisco dari atas. Tampak teratur dan rapi

Kita lihat lebih mendetil lagi yaaa…

San Francisco Perbesar

Lihat kan perbedaannya? Sangat teratur sekali. Karena banyaknya akses, kemacetanpun bisa terurai dengan sendirinya.

Kita lihat lagi yaaaaaa…

Fokus pada lingkaran merah….

Pada lingkaran merah tersebut, saya akan menempatkan “Street View”, yang pandangan lurusnya mengarah ke arah pantai. Dan akan terlihat, keteraturan daerahnya sangat berbeda jauh dengan Indonesia.

Ujung Pantaaaiiii

Sekarang bisa kita simpulkan, mungkin salah satu solusi kemacetan bisa kita atasi dengan:

  1. Tidak ada portal di tiap persimpangan. Portal? IYA!!! Inilah biang keladi utama kemacetan. Jika semua rumah menggunakan sistem Cluster, maka penumpukan kendaraan pada salah satu jalanan akan semakin memperparah kemacetan. Tengoklah jl. Sholeh Iskandar (Karena saya tinggal di Cimanggu hehehehe). Taman Cimanggu, Cimanggu Permai, Budi Agung, Taman Sari Persada, Duta Kencana, semuanya ada portal. Apalagi, Jl. Sholeh Iskandar sedang ada pembangunan jalan Fly-Over. Kalo memang semua portal turun, walahhhh… Kita-kita susah dehhh… Selamat menikmati kemacetaaaaan. 🙂 Contoh yang gamblang, jelas adalah Jalan Mataram di Cimanggu Permai (Menghubungkan Taman Cimanggu, Yasmin ke Yogya Plaza –> Sholeh Iskandar untuk mencari putaran ke arah Warung Jambu). Kenapa jalanan itu sangat penting? Karena, setelah putaran dekat Cimanggu-Yogya, tidak ada lagi putaran ke arah Warung Jambu. Silahkan buktikan yaaa… Terkadang, dengan sekenanya, warga daerah Jl Mataram main tutup portal saja, TANPA MEMPERTIMBANGKAN MASALAH ,MASYARAKAT UMUM. Padahal di situ, ada kantor Lurah Kedung Jaya looohhh.. Koq Lurahnya ga bisa mementingkan kepentingan umum ya? Akses Cimanggu Permai –> Permata Cimanggu –> Barata Cimanggu, mentoknya di perbatasan Permata VS Barata.
  2. Tidak ada polisi tidur yang berderet. Kenapa? Walaupun niatnya untuk membatasi kecepatan tinggi pengendara, bukan berarti setiap jalanan bebas ditambahkan deretan polisi tidur. bagaimana jika ada ibu-ibu yang sedang hamil tua? Kira-kira, apa akibatnya? Salah satunya di Bogor ada di depan SMAKBO. Apa maksudnya? Yang paling parah, di depan rumah dinas Walikota Bogor. Itu berarti memberikan kesan bahwa beberapa daerah tersebut harus diistimewakan. Vila Duta, banyak polisi tidurnya. Jika dipikir kembali, semakin banyaknya polisi tidur, maka tingkat kebersihan udara di daerah tersebut sangat kotor. Pasti setelah melewati polisi tidur, semua kendaraan akan menekan pedal gas untuk menambah kecepatan kendaraannya. Benar khan?
  3. Perbanyak jalan tembus. Jika Cimanggu Permai, Permata Cimanggu, Barata Cimanggu, Taman Cimanggu, Budi Agung, Taman Sari Persada, Bukit Cimanggu City, Bogor Country Estate, Bogor Baru, Villa Duta, dan semua kompleks perumahan bersedia membuka portalnya (atau minimal membuat akses jalan tembus yang baru), DIJAMIN bisa mengurai kemacetan di jalan-jalan utama jam sibuk.
  4. Konsep rumah jangan sistem cluster. Jika cuma ada satu akses pintu masuk dan keluar, maka, kejadiannya sama seperti di jalan Sholeh Iskandar Bogor. Semua kompleks perumahan di daerah situ, keluar menuju satu jalan yang sama. Apa akibatnya? Bisa dilihat di Amerika, kompleks perumahan di Amerika bahkan ditempatkan di dalam kota. Jadi, akses jalanan makin terbagi, dan tidak terjadi konsentrasi kemacetan di beberapa titik.
  5. Pengendalian jumlah kendaraan. Ada satu negara yang membolehkan warganya membeli mobil, tapi pajaknya seharga mobil tersebut. Ada negara yang menarik pajaknya dari luas garasi yang dimiliki. Ada negara yang membatasi dengan cara memantau deposito dengan nilai minimal.

inilah beberapa ide, yang mudah-mudahan bisa menambah wacana untuk kota Bogor, kota kelahiran saya. Agar tidak selalu macet tiap hari. 🙂

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Adu Ide dan Adu kemahiran berparkir?

Posted by ferryryuki pada September 10, 2012

Saya mendapatkan program bagus dalam format PPS, yg sudah dimodifikasi.

Yang pertama adalah menguji kecepatan berfikir untuk menemukan jalan yang sudah ditentukan arah-arahnya. Kalo emang ada yang bisa, bantuin yaaa…. 🙂

car_puzzle

Yang kedua, cuma melatih ajaaa… Kalo ada yang dah jago nyetir, bisa ga kamu parkirin mobil di program ini? Hehehehe

Motora111._1

Silakan cobaaa….

NB: Cara kendalikan yaaa gampang aja. Cukup pake tombol panah aja. dan [Esc] utk keluar… Hehehehe

Posted in Motivasi | Leave a Comment »

Pelajaran Berharga untuk kita para guru di Tanah Air tercinta

Posted by ferryryuki pada November 20, 2010

Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .

Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.

Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.

Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.

Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.

Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik. Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.

Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.

Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam. Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya. Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Ahrinya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya. Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.

Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya. Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah. Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano. Dan dengan nada memelas dia berkata… Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam bathin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.

Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu. Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus. Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. “Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?” dan. “Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?”

Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart’s Concerto #21 in C Major. Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo. Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!

Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar…namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.

Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita.”Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?” Melalui pengeras suara Wo menjawab, “Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit? Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi. Tahukah ibu bahwa sebenarnya… mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano. Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya.”

Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.

Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.

Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo. Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya. Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.

Sumber dari Ayah Edy di http://ayahkita.blogspot.com/2010/10/pelajaran-untuk-para-guru.html.

Posted in Renungan | Leave a Comment »

“Bacanya yang keras ya Pa …”

Posted by ferryryuki pada Januari 12, 2010

Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.

Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan �suara manjanya, “Papa lihat!” John menengok kearahnya dan berkata, “Wah, buku baru ya?” “Ya Papa!” katanya berseri-seri, “Bacain dong!” “Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh”, kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali “Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy”. Dengan perasaan agak kesal John menjawab: “Magy dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya”. “Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa” katanya sendu. “Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu.” “Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan.”

John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi “Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka”. “Magy, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!” dengan agak keras John membentak anaknya.

Hampir menangis Magy mulai menjauh, “Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali”. Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata “Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar”.

John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: “Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar”. Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.

Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin…

Sumber: Dudung

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Pesan Tersembunyi ‘I Love You’ dari Gadis Cilik Kanker Otak

Posted by ferryryuki pada November 8, 2009

Saya baca dari detik.com yang isinya:

Cincinnati, AS, Gadis cilik 6 tahun berhasil menyembunyikan catatan kecil yang dibuatnya selama 9 bulan ketika mengidap kanker otak. Catatan yang disembunyikan di hampir seluruh bagian rumahya itu baru ditemukan oleh keluarganya setelah sang gadis meninggal dunia.

Elena Desserich didiagnosa kanker otak ketika usianya masih 5 tahun. Selama 9 bulan melawan penyakitnya, Elena menyembunyikan ratusan catatan kecil di setiap halaman buku, lemari, laci, tas, baju, sweater bahkan di tempat cuci piring.

I Love Grace‘, demikian catatan yang ditulis Grace kepada adik tersayangnya, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (7/11/2009).

Elena meninggal pada Agustus 2007, tapi orang tuanya, Keith (34 tahun) dan Brooke (35 tahun) serta adiknya, Grace yang berusia 5 tahun pada saat itu baru menemukan catatan dan gambar yang disembunyikan Elena baru-baru ini atau dua tahun setelah kematian Elena.

“Setelah dikumpulkan, ternyata catatan itu sudah terkumpul dalam tiga kotak besar,” ujar Keith.

Sekarang keluarga Elena berusaha mengumpulkan semua catatan dan gambar buatan Elena yang menyentuh itu dalam sebuah buku.

Ketika Elena didiagnosa penyakit kanker otak pada tahun 2006, orang tuanya hanya diberitahu bahwa hidup Elena hanya tinggal 135 hari lagi. Dan sejak itu, setiap harinya orang tua Elena berusaha membuat momen spesial untuk Elena.

“Kami tidak ingin fokus pada penyakit kankernya, kami hanya ingin melakukan apapun yang Elena inginkan,” ujar Keith.

Keith dan Brooke tidak ingin Gracie, adik Elena melupakan kakaknya begitu saja, jadi mereka membuat sebuah jurnal khusus untuk mengenang Elena.

“Dia adalah gadis yang sangat bijak di usianya yang baru 6 tahun. Catatan-catatan itu adalah cara dia mengatakan pada kami bahwa segalanya akan baik-baik saja. Setiap kami menemukan tulisan itu, rasanya Elena seperti memeluk kami,” ujar Keith.

Meskipun Elena mendapatkan terapi radiasi tiap hari, tapi kondisinya justru tambah memburuk, bahkan sudah tidak bisa bicara lagi.

Namun meski gadis kecil pemberani itu tidak bisa bicara lagi, ia tetap menyuarakan isi hatinya melalui sebuah tulisan. Kebanyakan tulisan yang disembunyikan Elena ditujukan untuk adiknya, Gracie. Tapi ia juga menuliskan untuk ibu, ayah, kakek dan anjing favoritnya, Sally.

Beberapa tulisan ‘I Love You’ yang dibuat Elena juga diberi gambar hati dan bunga. Satu tulisan yang dibuat Elena, ‘I Love You Gracie, Go Go‘ adalah catatan yang paling membuat Gracie semangat dan bangga mempunyai kakak seperti Elena.

Catatan Elena yang sudah dibukukan rencananya akan disumbangkan pada the Cure Starts Now Cancer Foundation dan didedikasikan untuk menginspirasi semua penderita kanker di seluruh dunia.

-Saya terharu sekali-

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »